Lewati ke konten
SDGs Center UDINUS

Catatan bukti · UDINUS · SDGs

Memahami Tuberkulosis sebagai Masalah yang Sulit Diatasi: Studi Kualitatif di Permukiman Perkotaan Pesisir Semarang, Indonesia

Rektorat UDINUS 2025 Terbit 2026-10-10

Catatan bukti · UDINUS · SDGs

Unit
Rektorat UDINUS
Periode
2025
Tujuan
Nomor
cee4ec32-190e-4855-8260-b98b1f098e64
Terbit
2026-10-10

Universitas Dian Nuswantoro menyajikan studi kualitatif eksploratif yang mengkaji tuberkulosis sebagai masalah yang sulit diatasi di permukiman perkotaan pesisir Semarang, Indonesia. Studi ini membahas tantangan kesehatan masyarakat ketika kemiskinan, kepadatan hunian, stigma, dan keterbatasan infrastruktur kesehatan beririsan dengan kerentanan sosial, budaya, lingkungan, dan kelembagaan. Kegiatan ini berfokus pada permukiman perkotaan pesisir yang diidentifikasi sebagai wilayah berisiko tinggi tuberkulosis serta mengkaji bagaimana struktur, budaya, dan komunikasi saling berinteraksi sehingga pengendalian penyakit menjadi lebih sulit.

Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif eksploratif melalui wawancara mendalam dengan 27 peserta yang terdiri atas pasien tuberkulosis, kontak serumah, kader kesehatan, tenaga kesehatan, pemangku kepentingan lokal, dan anggota masyarakat. Data dianalisis secara tematik untuk mengkaji bagaimana faktor sosial, budaya, dan kelembagaan membentuk kerentanan dan pengendalian tuberkulosis. Temuan mengidentifikasi enam ciri yang saling berkaitan dari tuberkulosis sebagai masalah yang sulit diatasi di wilayah pesisir. Ciri tersebut meliputi komunikasi eufemistis dan terstigmatisasi, termasuk penghindaran yang luas terhadap istilah tuberkulosis; kesalahan pengenalan gejala ketika batuk dan kelelahan dinormalisasi atau diabaikan; stigma struktural yang memperkuat kesunyian sosial dan keterlambatan pengungkapan; narasi penyakit yang tertanam dalam budaya dan mencakup penjelasan moral, spiritual, serta gaya hidup; persepsi kesehatan berdasarkan kemampuan menjalankan aktivitas sehari-hari sehingga urgensi pengobatan dapat diremehkan; serta respons sistem kesehatan yang terfragmentasi, termasuk jangkauan layanan yang kekurangan sumber daya, jam layanan yang tidak selaras, dan pendidikan kesehatan yang dangkal.

Studi ini juga menggambarkan lingkungan pesisir yang rapuh, dengan banjir pasang, kelembapan tinggi, dan kepadatan hunian. Kondisi tersebut secara bersama-sama meningkatkan paparan tuberkulosis, sementara masyarakat pesisir menghadapi kerentanan ekologis dan kelembagaan yang berlapis. Studi menyimpulkan bahwa upaya eliminasi tuberkulosis di Indonesia perlu melampaui solusi biomedis dengan menangani keyakinan budaya, kerentanan lingkungan, dan kelemahan sistem kesehatan. Studi ini menyerukan intervensi adaptif, multisektor, dan sesuai konteks budaya. Kegiatan ini menghubungkan kerentanan terkait kemiskinan, kesehatan, dan kondisi permukiman perkotaan pesisir. UDINUS membingkai bukti ini sebagai penelitian untuk mendukung pemahaman yang lebih terpadu mengenai pengendalian tuberkulosis di lingkungan perkotaan yang rentan.

Rujukan https://www.scopus.com/pages/publications/105022641226?origin=resultslist